Akhirnya Bersua Juga

April 29, 2020


Pertemanan di Facebook
 
Foto pertama adalah situasi perpustakaan Leiden dan Foto kedua di ambil di kafe `perpustakaan Leiden di kenal dengan Kafe UB, saya hanya tukang jepret iseng tidak hanya mengabadikan moment saya, tapi juga aktifitas teman-teman disekitar. Foto ini hanya moment kecil dari moment yang dilewati tadi apalagi dengan bapak yang dalam foto.

UBL
Foto ini di ambil untuk mengabadikan penyerahan buku karangan mas Naka ke pak Suryadi. Lalu siapakah mas naka, mas Naka seorang sastrawan, seniman dan penulis yang lagi meneliti juga di Leiden, apa aja karyanya, meneliti apa dan kalau mau undang jadi pembicara silahkan langsung melipir ke FB beliau. Postingan kali ini bercerita tentang impian saya di tahun 2010 bersama teman-teman sejarah Unand, ingin lanjut ke Leiden nantinya. Bercerita tentang impian ke Leiden maka senior kami akan menceritakan tentang orang Minang yang jadi dosen di Leiden. Setelah itu langsung saya cari nama beliau di FB untuk add.


Untuk mewujudkan impian bisa S2 di Leiden, di Unand kita ada kelompok belajar bahasa Belanda, karena tidak cukup belajar di kelas aja jadi harus ada tambahan yang bisa banyak mencobakan bagaimana berbicara bahas Belanda dan guru kelompoknya adalah bang Fino. Bahkan saking alaynya kita-kita, profil fb juga mencantumkan kuliah di Leiden…..

Lalu apa hubungannya dengan judul tulisan ini, ketika diskusi di cafe UB sebenarnya hanya untuk menemani uni @ira safitri, yang janjian dengan bapak  diskusi terutama tentang thesis beliau Bukittinggi, awak cukup mendengarkan saja sambil makan siang, apalagi sudah diskusi ama bapak minggu lalu. Makan sianglah kita dengan mengeluarkan bekal masing-masing yang dibawa dari rumah (makannya di cafe tapi menunya dibawa dari rumah…wk…wk) selain hemat, juga sehat jelas kepastian halalnya.

Walau hanya menemani berbicara, ketika 3 orang Minang bertemu apalagi terkait ilmu, cerita udah kemana-mana jadinya. Setelah kita lama diskusi ketika itu datang mas Naka dan istri beliau ternyata udah janjian juga sama bapak. Maka semakin seru pembicaraan, ditengah asyik pembicaraan saya beranikan diri bercerita sama bapak “ Pak pertemanan yang saya kirim semenjak 2010 belum bapak konfirmasi”,  semua kita tertawa…. akhirnya hari ini pertemanan saya di approved, ye alhamdulillah.

Kenapa konfirmasi berteman dengan beliau di FB sangat saya tunggu. Semua yang mau membuka wall beliau akan tau jawabannya. Beliau selalu memposting tentang sejarah, sumber sejarah, koran-koran terdahulu, informasi dan cerita-cerita dari beliau menjadi sumber inspirasi dalam menulis. Awak Tidak hanya sengaja membuka wall fb beliau untuk melihat info  tetapi juga membaca tulisan beliau di koran Padang Ekspress, Singgalang  juga di blog beliau, https://niadilova.wordpress.com/. karena pertemanan belum dikonfirmasi.

 Apalagi telah dua kali diskusi langsung dengan beliau sungguh memperkaya khazanah. Bila ke leiden untuk belajar maka belum lengkap kalau belum bertemu dan diskusi dengan beliau, sebelum kesini dosen-dosen di Padang dan di Yogyakarta selalu menyisipkan pesan agar membuat janji bertemu beliau “Jua se namo apak ka pak Suryadi” pesan seorang bapak, begitu juga pertanyaan salah seorang sahabat kelompok belajar bahasa Belanda tahun 2010 bertanya, lai batamu jo apak?

Tetapi sayang banyak yang tidak memanfaatkan dengan baik pituah dari bapak, malahan banyak yang bertemu bapak hanya untuk legitimasi di socmed atau laporan ke instansi, yang dibawa hasil entah bagaimana, contohnya saja tambo Minangkabau. Ah Semoga diskusi ini membuahkan karya yang bernas.

Pengalaman pertemanan di Fb seperti ini sebenarnya tidak hanya dengan beliau tetapi juga dengan beberapa Prof lainnya. Hal ini memperlihatkan tauladan agar bijak dalam ber social media bahkan banyak dosen-dosen yang memutuskan tidak punya Social media juga WA.

You Might Also Like

0 comments

FOLLOW ME IN

Twitter Facebook Instagram

Advertise

Get All The Latest Updates Delivered Straight Into Your Inbox For Free!